Apakah LDII Termasuk Aliran Sesat?

Apakah LDII Termasuk Aliran Sesat?

Jawab:  TIDAK! Berdasarkan Keputusan MUI tentang Pedoman Identifikasi Aliran Sesat MUI tanggal 25 Syawal 1428 / 6 November 2007 tentang:

10 KRITERIA ALIRAN SESAT :

1.Mengingkari salah satu dari RUKUN IMAN yang 6: iman kepada Alloh, , Malaikat, Kitab, Rosul & Hari Akhir, kepada Qodlo & Qodar, dan RUKUN ISLAM yang 5: Syahadat, Sholat, Zakat, Puasa, Haji
2.Meyakini dan/atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil SYAR’I (Al-Quran & As-Sunnah)
3.Meyakini turunnya wahyu setelah Al-Quran
4.Mengingkari otentisitas dan/atau kebenaran isi Al-Quran
5.Melakukan penafsiran Al-Quran yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir
6.Mengingkari kedudukan hadits Nabi sebagai sumber ajaran Islam
7.Menghina, melecehkan dan/atau merendahkan para Nabi dan Rosul
8.Mengingkaari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi & Rasul terakhir
9.Merubah, menambah dan/atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh Syariah seperti haji tidak ke Baitulloh, shalat fardlu tidak 5 waktu
10.Mengkafirkan sesama Muslim tanpa Syar’I seperti mengkafirkan Muslim hanya karena bukan kelompoknya.

LDII menyatakan “TIDAK” atas ke 10 Kriteria itu

MAKA:

Maka untuk pertanyaan apakah LDII termasuk aliran sesat

LDII TIDAK TERMASUK ALIRAN SESAT..!!!

 

sumber : http://www.jabar.ldii.or.id/apakah-ldii-termasuk-aliran-sesat/

Musda LDII Kota Makassar

makassar2mei13Tampil sebagai ketua panitia kegiatan, Drs. H. M. Renreng Tjolli, MA dan Muhammad Furqon Nur, S.Kep sebagai sekretaris. Musda dihadiri oleh 150 orang peserta. Terdiri dari unsur Dewan Penasehat (wanhat), DPW LDII Provinsi Sulsel, DPD LDII Kota Makassar, dan Pimpinan Cabang. Ditambah panitia sebanyak 35 orang.

Beragam item acara berlangsung dalam musyawarah ini. Mulai dari pembukaan, pembacaan ayat suci Alquran, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Laporan ketua panitia, Sambutan ketua DPD LDII Kota Makassar oleh Drs. H. Adnan Madi, MM. Sambutan Ketua DPW LDII yang diwakili oleh Ir. H. Abri, M.Si. Pemerintah Kota Makassar turut ambil bagian dalam memberikan sambutan. Sekertaris Kota, Drs. Agar Jaya, MM membacakan sambutan Walikota Makassar. Seremonial pembukaan Musda diakhiri dengan penyerahan cinderamata dan pembacaan doa.

Pembicara yang hadir dalam musyawarah lima tahunan Kota Anging Mammiri ini diantaranya Drs. H. Muh. Kamaruddin Monde, M.Si selaku Kepala Bagian Kesra Kota Makassar. Dalam arahannya, Kamaruddin Monde menggambarkan tugas Kesra Kota Makassar secara rinci. Mulai dari melakukan pembinaan kepada Badan Amil Zakat. Selain itu, melakukan pendataan, administrasi dan pengelolaan sarana ibadah. Tak terkecuali melakukan administrasi lembaga sosial keagamaan, pembinaan lembaga amil dan zakat Termasuk memperhatikan kesejahteraan imam, majelis ulama dan guru mengaji. Ia juga menyampaikan tatacara permohonan bantuan pembangunan sarana dan prasarana ibadah.

Pemateri lain ialah Ketua MUI Kota Makassar, Dr. KH. Mustamin Arsyad Lc, MA. Dosen yang menyelesaikan pendidikan S1, S2 dan S3-nya di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir dan mengajar dibeberapa perguruan tinggi diantaranya UIN Alauddin, Universitas Muslim Indonesia, UIN Sunan Kalijaga, dan UIN Syarif Hidayatullah itu menyampaikan bahwa ajaran islam hendaknya dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Terutama ajaran islam mengenai moral dan spiritual

Dalam penyampaiannya, persoalan besar yang melanda umat islam saat ini ialah masyarakat belum bisa mengamalkan konsep moral dan spiritual Alquran. Buktinya banyak terjadi bencara alam dan sosial. Bencana alam acapkali melanda negeri ini seperti banjir, longsor dan tsunami. Bencana sosial juga marak terjadi, seperti bentrokan, kriminal, perkelahian kelompok dan korupsi. Mustamin Arsyad memberikan perhatian yang lebih terhadap masalah korupsi. Ia menyinggung sebagian elit yang acap menyalahgunakan uang rakyat.

Oleh karena itu, Mustamin Arsyad mengajak kepada segenap umat islam untuk mengamalkan nilai-nilai Kitab Suci Alquran dalam segala aspek kehidupan. Tujuannya agar kehidupan dapat menjadi lebih baik.

Usai ishoma acara dilanjutkan dengan sidang komisi. Sidang komisi paripurna pertama sampai keempat. Dipenghujung acara, peserta Musda memilih Drs. H. M. Renreng Tjolli, MA sebagai Ketua DPD LDII Kota Makassar untuk masa bakti 2013-2018.

 

sumber : http://beritanuansa.wordpress.com/

Acara Akhir Tahun Remaja LDII Gambir – Lagoa

gambirmei13Tahun baru pada umumnya dimanfaatkan oleh generasi muda untuk hal-hal kurang bermanfaat. Oleh karena itu, pengurus Desa Lagoa (Jakarta Utara) dan Desa Gambir (Jakarta Barat) sepakat merancang kegiatan gabungan 2 PC LDII melaksanakan kegiatan positif yakni pengajian, hiburan dan keakraban 2 PC LDII.

Sempat hujan pada sore hari namun tidak menyurutkan semangat muda-mudi untuk memeriahkan acara tahun baru 2013 ini. Sejumlah kurang lebih 160 orang peserta dengan cukup meriah mengikuti acara. Tema acara ini adalah “one step forward for better youth”. Menurut ketua panitia Eko Hadi Sucipto, S.Pi , hal ini dimaksudkan agar muda-mudi merancang program/visi untuk 2013 yang lebih baik dibanding 2012. Hak serupa juga diungkapkan Ketua muda-mudi PC Lagoa Agih Gatra, A.Md  dan Ketua muda-mudi PC Gambir Widi Puji, A.Md. Acara ini didukung penuh oleh semua pihak baik dari Pengurus PC maupun pengurus DPD Jakarta Utara-Jakarta Barat.

Menurut Bp H Adi Sumito selaku wakil PC Lagoa, semoga dengan adanya kegiatan ini semakin memberi warna baru untuk muda-mudi yang lebih aktif dan kreatif. Bp Kholiq selaku wakil PC Gambir juga menambahkan bahwa event ini mudah-mudahan bisa menimbulkan spirit baru bagi kita semua. Mulai dari perkenalan masing-masing desa, perform masing-masing PC mulai dari short movie (tema: marbot), sulap, persinas asad, stand up comedy, alhamdulillah cukup mengocok perut dan menghibur peserta.

Acara ini terselenggara mulai hari senin 31 Des 2012 pukul 16.30 sampai 1 Januari 2013 pukul 07.00 alhamdulillah cukup lancar. Adapun beberapa kekurangan akan menjadi evaluasi untuk perbaikan tahun depan.

 

sumber : http://beritanuansa.wordpress.com/

BERBEDAKAH CARA IBADAH WARGA LDII

Jawabnya TIDAK .. !!

 

Rukun Islam ada 5, satu di antaranya shalat. Sedangkan dalam shalat ada 13 rukun dimulai Takbiratul Ihram hingga Salam. Dalam shalat wajib 5 waktu, warga LDII juga melaksanakan 13 rukun yang diwajibkan.

Memang sedikit terjadi perbedaan dalam shalat. Itu pun hanya “fur’iyyah” yang tidak perlu didiskusikan.Yakni, mereka tidak “menzaharkan” membaca Bismillah, tetapi hanya “mensirkan” serta tidak membaca doa qunut pada Shalat Shubuh, tetapi mereka tetap mengangkat tangan ketika KH Zulfiqar Hajar memimpin doa usai taushiyah.

Dari perjalanan “Muhibbah Tabayyun” ke 2 Ponpes LDII di Ponpes Wali Barokah Kediri dan Ponpes Gadingmangu di Jombang tidak terlihat sama sekali penyimpangan dalam shalat. Santri-santriwati yang berjumlah 2.000an di setiap Ponpes secara khusyu’ mengikuti setiap prosesing dalam shalat tersebut. Bahkan, imam dalam shalat tersebut hafiz Alquran lulusan Mekkah (Arab Saudi).

Ada keistimewaan kedua Ponpes itu yang (mungkin) tidak dipunyai Ponpes-ponpes milik Ormas Islam lainnya. Yakni, para santri-santriwati membaca Alquran setelah shalat sunnah (rawatib) pada setiap shalat wajib hingga muazzin mengumandangkan qomat.

Selain itu, mereka setiap malam melaksanakan “Shalat Malam” (Shalat Tahajjud) dimulai pukul 02.00-03.00 W

serta senantiasa mengucapkan “Shallallahu alaihi wasallam” ketika pentaushiyah mengajak bershalawat kepada Rasulullah SAW.

Dalam bidang kebersihan, seharusnya umat Islam mau belajar dengan LDII. Sebab, LDII benar-benar mengamalkan Hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi “ “Annazhofatu minal iman” (kebersihan itu bagian dari iman).

Rombongan ulama termasuk wartawan Skala menyaksikan secara langsung, bagaimana kebersihan itu harus senantiasa dijaga. Tidak saja kamar tidur yang bersih dan teratur, bahkan kamar mandi juga sangat bersih dengan nenyediakan sandal/selop serta ada “batasan suci”, sehingga sandal/selop tidak boleh berada di tempat “batasan suci” serta lantai dalam dan luar setiap gedung senantiasa tetap bersih.

Satu hal sangat mengagumkan, usai shalat wajib, rombongan ulama menyaksikan sepatu dan sandal/selop tersusun rapi di anak tangga masjid dalam posisi siap pakai.

Begitu juga kebersihan anak dan pegangan tangga serta lantai yang berada di menara agung Masjid Baitul A’la di Ponpes Wali Barokah Kediri setinggi 99 meter atau 23 lantai (Asmaul Husna) yang di kubahnya terdapat 60 Kg emas murni sangat bersih. Ini terbukti tidak berdebu. Begitu juga lantainya, sehingga rombongan ulama Medan yang naik hingga ke puncak menara tidak merasakan adanya kotoran di tangan dan kaki, karena rombongan hanya “berkaki ayam”.

Selain senantiasa menjaga kebersihan, warga LDII juga sangat disiplin, rukun, kompak dan sangat memuliakan tamu yang berkunjung dengan memberikan fasilitas sangat memadai. Mereka benar-benar mengamalkan Hadits Rasulullah SAW yang maknanya :”Siapa-siapa yang berman kepada Allah dan Hari Akhirat, maka hendaklah dia memuliakan tamu”.

Jadi, tidak mengherankan tetamu datang dari berbagai penjuru nusantara. Tidak saja dari seputaran Pulau Jawa saja, tetapi juga dari pula-pulau lain beragam provinsi da kabupaten/kota datang “bertabayyun” ke dua Ponpes LDII itu.

Dalam pengajaran, para santri-santriwati tidak “alergi” dengan pentaushiyah dari luar LDII. Seperti taushiyah disampaikan KH Amiruddin MS dan Drs H Amhar Nasution MA usai Shalat Shubuh dan Zuhur. Ini artinya, warga LDII sudah bersifat terbuka tidak eksklusif sebagaimana yang terjadi pada paradigma lama. Namun, dengan paradigma baru, mereka lebih terbuka lagi kepada masyarakat umum.

Paradigma baru ini bukan dalam perbaharuan akidah. Mereka tetap mengakui Allah sebagai Tuhan Yang Mahaesa dan Nabi Muhammad bin Abdullah SAW sebagai Rasul dan utusan Allah, berpegang teguh kepada Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW (Hadits) serta patuh kepada pemimpin dan ulama.

Dalam bidang sosial-kemasyarakatan, baik sebagai tuan rumah maupun peserta, warga LDII ikut aktif. Seperti kegiatan-kegiatan ilmiah dan keagamaan semisal MTQ dan berbagai pelatihan kepemimpinan serta kegiatan lain berupa khitanan massal, penghijauan dan gotong-royong. (HA Ramadhan)

TAUSHIYAH: Ribuan santri-santriwati Ponpes Wali Barokah LDII Kediri terlihat serius dan khusyu’ mendengarkan tauhsiyah Buya KH Amiruddin MS usai Shalat Subuh di Masjid Baitul A’la Ponpes itu, Selasa (14/6).

 

sumber : http://ldiisurabaya.org/cara-beribadah-warga-ldii/

LEMBAGA DAKWAH ISLAM INDONESIA

Lembaga Dakwah Islam Indonesia disingkat LDII, merupakan organisasi kemasyarakatan yang independen, resmi dan legal yang mengikuti ketentuan UU No. 8 tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan, Pasal 9, ayat (2), tanggal 4 April 1986 (Lembaran Negara RI 1986 nomor 24), serta pelaksanaannya meliputi PP No. 18 tahun 1986 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 5 tahun 1986 dan Aturan hukum lainnya. LDII, memiliki Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART), Program Kerja dan Pengurus mulai dari tingkat Pusat sampai dengan tingkat Desa. LDII sudah tercatat di Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Bakesbang & Linmas) Departemen Dalam Negeri. LDII merupakan bagian komponen Bangsa Indonesia yang berada dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia Berdasarkan Pancasila dan UUD 45.

Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) berdiri sesuai dengan cita-cita para ulama perintisnya yaitu sebagai wadah umat Islam untuk mempelajari, mengamalkan dan menyebarkan ajaran Islam secara murni berdasarkan Alquran dan Hadis, dengan latar belakang budaya masyarakat Indonesia, dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945.

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Lembaga_Dakwah_Islam_Indonesia